Cerita Busana Tambal Sewu Yang Dijadikan Desain Baju Khas Lamongan

Reporter : Redaksi - klikjatim

Ritual penyucian Busana Tambal Sewu yang berada di rumah pewarisnya di Desa Sambilan, Mantup, Lamongan. (ist)

KLIKJATIM.Com | Lamongan – Warga Desa Sambilan, Kecamatan Mantup, Lamongan mempunyai cerita peninggalan masa lalu yang masih dilestarikan hingga sekarang. Yaitu, sejarah tentang Busana Tambal Sewu.

Bahkan setiap bulan Dzulhijjah dalam kalender Islam menjadi bulan yang sakral bagi masyarakat desa setempat. Karena bulan ini, tepat di setiap tanggal 10 Dzulhijjah menjadi momen penyucian Busana Tambal Sewu.

Ritual tersebut sudah turun temurun. Setiap tahun, Busana Tambal Sewu selalu dibuka untuk disucikan dengan diberi minyak wangi dan bunga oleh pewarisnya.

Dalam prosesi setiap tahunnya, juga banyak warga sekitar yang memanfaatkan momen ini untuk ‘ngalap’ berkah dengan berkirim doa ke Mbah Golijah selaku pemakai Busana Tambal Sewu kala itu. Perlu diketahui, bahwa Mbah Golijah merupakan istri Mbah Sambilan yang merupakan tokoh pembuka Desa Sambilan, Mantup.

BACA JUGA :  Pemuda 'Super W' Tawarkan Bangun Sidoarjo dengan Kreatifitas

Mbah Slamet, pewaris Busana Tambal Sewu menceritakan, baju itu dulunya merupakan pakaian yang dikenakan oleh Mbah Golijah. Untuk menjaga kesucian pakaian, setiap bagian dari pakaian yang kotor selalu dipotong, kemudian dibuang dan diganti atau ditambal menggunakan kain baru yang masih bersih dan suci.

“Karena saking banyaknya tambalan kain yang menempel di pakaian, disebutlah nama busana tambal sewu yang dikenal sampai sekarang,” kata Mbah Slamet, seperti yang dilansir timesjatim.com padw Jumat (31/7/2020).

Sebagai pewaris, Mbah Slamet mengaku mendapatkan wejangan dari para pendahulunya. Ia diwanti-wanti agar senantiasa merawat busana tersebut hingga sekarang.

“Warna asli busana tersebut tidak terlihat lagi karena banyaknya tambalan yang ada berwarna-warni. Sekarang kondisi busananya sudah lapuk dan tidak bisa terlihat wujud aslinya,” tutur dia.

BACA JUGA :  Temukan Buah Berformalin, Bisa Lapor Polisi

Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan, M. Alamudin mengungkapkan, pihaknya telah menjadikan busana tambal sewu sebagai salah satu inspirasi terciptanya Baju Khas Lamongan (BKL). “BKL sudah ditetapkan Pemerintah Kabupaten Lamongan pada tahun 2019 lalu,” lanjutnya.

Penetapan ini sebagai wujud pelestarian peninggalan Lamongan masa lalu. Yang ternyata memiliki nilai warisan sangat tinggi.

Selain itu, diakui untuk filosofi busana tambal sewu juga bisa mengilhami masyarakat Lamongan secara luas. “Yaitu tentang bagaimana manusia harus menjaga kesucian dirinya, termasuk pakaian yang menempel di tubuh. Kesucian ini merupakan bagian dari modal kedekatan manusia pada Tuhan-nya,” tandas Udin, sapaanya. (nul)