Buwun, Mengabadikan Kesepian

Reporter : Redaksi - klikjatim

Catatan kecil perjalanan ke Bawean, edisi 1.
Oleh : Dewi Musdalifah

Setelah menikmati ayunan ombak selama 3 jam, akhirnya, kapal yang saya tumpangi tiba juga di dermaga. Saya pun turun menginjakkan kaki di bumi Bawean untuk pertama kalinya.

Tanah dari secuil surga, menghampar lautan air jernih berpagar bukit-bukit hijau. Tak ada aroma amis, meski nampak banyak ikan tersembul di bibir dermaga. Angin berhembus sepoi, membelai tubuh yang penat. Segar.

“Selamat Datang Di Pulau Bawean,” begitulah kalimat penyambutan itu tertulis di gapura dermaga, seperti mempersilakan saya untuk segera bergegas menjumpai mobil penjemput.

Sepanjang perjalanan menuju rumah tinggal sementara, tatapan mata saya tak habis-habisnya disuguhi warna citraan alam yang elok. Subhanallah. Alangkah cantiknya Bawean.

Semakin mendekati lokasi, berjajar rumah-rumah besar yang gagah. Saya menikmatinya hingga beberapa saat, kemudian saya menyadari, ada yang tak biasa dengan pemandangan ini.

Rumah-rumah besar yang gagah ini ternyata sepi penghuni. Setiap rumah hanya ditempati oleh 1 atau tidak lebih dari 2 orang semata. Inilah yang membuat saya merasa terheran-heran atas kenyataan di hadapan saya. Dan disebab kenyataan ini pula akhirnya saya merasa perlu mencari pengetahuan tentang Bawean, bahwa sebagian besar masyarakatnya bekerja di luar negeri.

Mereka mengirimkan sebagian penghasilan yang didapatkan untuk membangun rumah megah, dengan harapan dapat menjadi bekal hari tua bersama anak cucu.

Di dalam mobil penjemput, diantara perbincangan yang sarat penjelasan perihal Bawean, saya dengar juga informasi berkaitan dengan dunia pendidikan yang cukup memprihatinkan di sini, sebagai contoh, misalnya perihal SPP sebesar 5 ribu yang sulit terbayar. Pendidikan tampak tidak dianggap penting, kecuali sebagai faktor pelengkap dari sekian laku hidup.

Bisa jadi masyarakat Bawean berpikir, untuk apa menyekolahkan anak, jika nanti bisa berangkat pula ke luar negeri.

Pikiran saya memasuki lorong-lorong rumah sepi itu, mendapati dua orang tua yang duduk di depan meja makan dengan mata menerawang.

Mereka yang di luar negeri tentu pasti pulang, menunaikan keinginan besar untuk berkumpul bersama anak cucu dan keluarga besar. Tapi sebagaimana tradisi yang telah berlangsung turun temurun, ketika si orang tua pulang, maka anak-anak mereka akan menggantikannya. Anak-anak mereka juga menunggu giliran berangkat ke luar negeri. Yang tua pulang, anak-anaknya pergi.

Begitulah tradisi ini terbentuk, seperti menjelaskan, bahwa rumah yang mereka bangun bertahun-tahun itu hanya demi mengabadikan kesepian.

Bersambung…

* Penulis adalah pegiat literasi dan Ketua MPI PDM Gresik