BP Jamsostek Janji Klaim Tuntas dalam Sehari

Reporter : Much Taufiqurachman Wahyudi - klikjatim.com

Direktur Utama BP Jamsostek Anggoro Eko Cahyo

KLIKJATIM.Com | Jakarta – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek berjanji membuat proses klaim dari sebelumnya 5-10 hari menjadi hanya sehari. Jani ini bakal diwujudkan melalui simplifikasi proses pengajuan klaim yang saat ini sarat akan dokumen.

BACA JUGA :  Disuruh Jaga Kos Malah Curi Laptop Penghuni Kos

 

Direktur Utama BP Jamsostek Anggoro Eko Cahyo menyampaikan, manajemen baru telah mengidentifikasi permasalahan yang ada yang kemudian lahir lima prioritas untuk memperbaiki aspek kepesertaan, pelayanan, dan investasi di BP Jamsostek.

Salah satu dari permasalahan yang terdeteksi adalah lamanya proses klaim. “Kami akan mengupayakan klaim bisa same day services. Itu merupakan hal yang baru bagi peserta. Kalau klaim itu sebelumnya 5-10 hari, maka nanti bisa same day services,” ujar Anggoro di depan Komisi IX DPR RI saat Rapat Kerja (Raker), pekan lalu.

Dia menerangkan, saat ini peserta harus lebih dulu menyerahkan dan melengkapi persyaratan setidaknya lewat 14 dokumen. Setelah itu, barulah peserta bisa memperoleh klaimnya.

“Jadi secara internal kami melakukan simplifikasi, pengurangan dokumen, yang sebelumnya klaim itu butuh 14 dokumen, itu akan kami simplifikasi. Tentu belum dilihat di ruangan ini (DPR). Dengan itikad baik, kami minta waktu untuk kami memperbaiki beberapa proses fundamental di kepesertaan, di pelayanan, dan diinvestasi,” kata Anggoro.

Dia juga memastikan, permasalahan pelayanan klaim saat ini tidak ada kaitannya dengan defisit atau unrealize loss pada BP Jamsostek. Kedua hal itu memiliki permasalahan yang berbeda. Karena lamanya klaim disebabkan karena proses dan persyaratan cukup banyak. Sedangkan unrealize loss yang disebut sebesar Rp 23 triliun merupakan risiko investasi.

Lagipula, kata Anggoro, likuiditas BP Jamsostek sangat cukup untuk membayarkan klaim para peserta. Data BP Jamsostek mencatat, sepanjang tahun 2020 total pembayaran klaim meningkat sebesar 20,01% (yoy) atau mencapai Rp 36,5 triliun.

Klaim untuk Jaminan Hari Tua (JHT) mencapai Rp 33,1 triliun untuk 2,5 juta kasus. Lebih lanjut, klaim program Jaminan Kematian (JKM) sebanyak 34,7 ribu kasus dengan nominal sebesar Rp1,35 triliun. Kemudian klaim Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebanyak 221,7 ribu kasus atau sebesar Rp1,55 triliun.

Kemudian klaim Jaminan Pensiun (JP) sebanyak 97,5 ribu kasus atau mencapai Rp 489,47 miliar. Kepesertaan Selain masalah klaim, sambung Anggoro, permasalahan lainnya adalah terkait menjangkau target 10 juta peserta aktif sampai akhir tahun ini.

Sejumlah permasalahan itu akan ditangani manajemen baru BB Jamsostek melalui lima prioritas utama. Pertama, kemudahan daftar dan bayar iuran. Anggoro menyampaikan, saat ini jumlah pekerja di Indonesia mencapai 137 juta, dan setidaknya 90 juta pekerja menjadi potensi peserta BP Jamsostek.

Adapun sampai per Februari 2021, jumlah peserta BP Jamsostek mencapai 48,6 juta, tapi hanya sebanyak 27,75 juta peserta aktif atau mencakup 57,11%. Dia merinci, dari 48,6 juta peserta, ada 81% dari segmen pekerja penerima upah (PPU) atau sebanyak 39,5 juta peserta.

Diikuti pekerja jasa konstruksi 5,4 juta atau 11%, dan pekerja bukan penerima upah sebanyak 3,2 juta atau 6,6%, serta pekerja migran sebanyak 0,72% atau 350 ribu. “Total pekerja aktif 2019 mencapai 34,17 juta, lalu di Desember 2020 turun menjadi 29,98 juta, di Februari 2021 turun menjadi 27,7 juta. Kami mendapatkan target tahun ini harus mencapai 37 juta. Jadi tugas kami dalam sembilan bulan kedepan untuk mengakselerasi jumlah tenaga kerja aktif sebanyak 10 juta,” ungkap Anggoro. (ris)