Biaya Perawatan Pasien Covid-19 di Rumah Sakit di Bojonegoro Ditanggung Negara, Per Hari Rp 5 juta-Rp 15 Juta

Reporter : M Nur Afifullah - klikjatim.com

Rapat percepatan penananganan covid-19 di ruang paripurna DPRD Bojonegoro.

KLIKJATIM.Com | Bojonegoro—Pasien positif covid-19 yang menjalani isolasi di rumah sakit biayanya telah ditanggung pemerintah. Melihat besarnya anggaran yang digelontorkan, DPRD Bojonegoro meminta rumah sakit memberikan pelayanan maksimal bagi pasien.

BACA JUGA :  Guru PAUD di Trenggalek Bakal Terima Tunjangan Selama Pandemi Covid-19

Biaya perawatan bagi pasien covid-19 yang ditanggung pemerintah itu berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan (KMK). Paling rendah biaya perawatan Rp 5 juta per hari. Sementara paling tinggi Rp 15 juta.

“Biaya itu telah dianggarkan pemerintah pusat dari APBN dan berlaku bagi seluruh daerah. Jadi, seluruhnya gratis bagi setiap warga yang menjalani isolasi di rumah sakit,” kata Wakil Ketua DPRD Bojonegoro, Sukur Priyanto, Jumat (30/7/2021).

Sukur mengatakan, besaran anggaran itu itu disesuaikan dengan klasifikasi kualitas pelayanan perawatan yang diberikan rumah sakit. Tentunya, kata Sukur, rumah sakit lebih dulu menentukan klasifikasi tingkat pelayanan berdasarkan hasil identifikasi dari hasil rekam medik pasien.

“Kalau pasien parah, tentunya fasilitas yang diberikan juga harus lengkap. Artinya, rumah sakit memberikan pelayanan berdasarkan tingkat keparahan penyakit yang diderita pasien covid-19,” lanjutnya.

Sukur meminta masyarakat untuk tidak khawatir soal biaya ke rumah sakit jika memang perlu menjalani isolasi di rumah sakit. Sebab, seluruh biaya telah ditanggung negara.

Untuk itu, berdasarkan tingginya biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk rumah sakit bagi setiap pasien yang menjalani isolasi, Sukur meminta agar rumah sakit memberikan pelayanan maksimal.

“Biayanya cukup tinggi yang dikeluarkan pemerintah untuk rumah sakit. Paling rendah Rp 5 juta, itu untuk satu hari,” ujarnya.

Melihat besarnya anggaran yang dikeluarkan pemerintah, politisi Partai Demokrat itu meminta rumah sakit tidak memberikan pelayanan asal-asalan kepada pasien. Pelayanannya diminta harus maksimal. Sukur juga sempat heran dengan tingginya angka kematian kasus covid-19 di Bojonegoro.

“Padahal anggarannya sudah besar lho. Tapi, ada beberapa rumah sakit di Bojonegoro yang tingkat kematian pasien covid-19 mencapai 30 persen lebih,” katanya dengan gimik heran.

“Perawat, dokter penanggung jawab harus melakukan supervisi perawatan yang intensif, tidak membuat aturan sendiri, karena pemerintah mengeluarkan uang cukup besar, sampai hari ini angka kematian sangat tinggi,” tambah Sukur.

Direktur RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, Ahmad Hernowo Wahyu saat rapat percepatan penanganan covid-19 bersama DPRD Bojonegoro menjelaskan, besaran klaim perawatan pasien Covid-19 berdasarkan beberapa kriteria. Kriteria yang dimaksud bukan per kepala pasien per harinya, tetapi berdasar ruangan.(mkr)