Bersih-bersih Selat Madura, Mahasiswa Dapat 1.534 Kilogram Sampah

Reporter : Miftahul Faiz - klikjatim.com

Sejumlah aktivis dan mahasiswa yang tergabung dalam Mupalas bersih-bersih di kawasan Selat Madura. (Miftahul Faiz/Klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Surabaya — Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammadiya Surabaya (Mupalas) melakukan pengambilan sampah pada tiga titik lokasi bibir pantai, Selat Madura, dan muara Kali Surabaya. Hasilnya, ditemukan 25 karung dengan berat 1534 kilogram.

BACA JUGA :  Inovasi Pentil Muter dari Puskesmas Prigen, Begini Aktivitasnya

Setelah dipilah, hasil kategori sampah bermerk berjumlah 1510 pcs/sachet dan kategori sampah tidak bermerk bagian popok 19 kilogram, bagian kantong plastik 84 kilogram, bagian B3 58 pcs, bagian sedotan 632 pcs, dan bagian botol 80 pcs.

“Pada sampah tidak bermerk bagian popok dan kantong plastik kami menentukan hasil dengan satuan berat atau kilogram karena sesuai dengan temuan kami di lapangan sampah ditemukan dalam keadaan tidak utuh dan tidak dapat terhitung jumlah Satuan nya,” ungkap Ketua Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammadiya Surabaya (Mupalas) Randu. 

Dirinya bersama lembaganya melakukan hasil temuan sampah tidak bermerk ini dapat disimpulkan bahwa sampah kantong plastik dan sedotan masih menjadi urutan yang paling atas penyumbang terbanyak sampah laut.

“Ini membuktikan bahwa banyaknya aktifitas masyarakat yang masih bergantung pada pengggunaan kemasan kantong plastik dan sedotan. Pada kemasan kantong plastik diduga merupakan bagian banyak dari sampah rumah tangga. Sedangkan pemilahan pada sampah bermerk, dari temuan hasil dengan jumlah 1510 pcs sachet kami menemukan 10 teratas produsen terbanyak penyumbang sampah plastik yaitu PT. Wings, nestle, PT. Forisa Nusa Persada, Indofood, PT. Mayora Indah, PT. Santos Jaya Abadi, Frisian Flag, PT. Marimas Putera Kencana, Karunia Alam Segar, dan Nutrifood,” paparnya. 

Dari 10 Perusahaan ini yang mendominasi penyumbang sampah terbanyak adalah PT. Wings. Perusahaan ini merupakan penghasil produk-produk rumah tangga dan pemeliharaan kesehatan diri. 

“Kesimpulan dari hasil brand audit ini menunjukkan bahwa sampah kebutuhan aktifitas rumah tangga masih mendominasi. Kecenderungan orang menggunakan plastik jika dilihat dari kacamata sosiologi merupakan sebuah fenomena dimana orang ingin cepat dan praktis. Namun, dampak dari sampah plastik ini lebih banyak daripada manfaatnya, maka sampah plastic ini akan terus menjadi permasalahan yang serius,” imbuhnya. 

Dia mengaku khawatir terkait dampak mikroplastik pada lingkungan dan biota laut apabila tidak mendapat perhatian serius, karena akan mengancam ekosistem laut dan hasil tangkap nelayan di Selat Madura.

Pihaknya mendesak pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya untuk mengclean up sampah di bibir pantai utara Surabaya dan meningkatkan pelayanan bank sampah di sekitarnya. 

“Kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk Membuat Perda Pelarangan/pengurangan plastik sekali pakai sebagai upaya mengendalikan timbulnya sampah plastik di sungai dan pesisir. Serta menjaga kualitas hasil laut dan kualitas perairan pada wilayah pesisir utara Jawa Timur dan selat Madura, dengan menetapkan zona tangkap aman dari Mikroplastik,” jelas aktivis lingkungan ini. 

Mupalas mengajak masyarakat untuk sadar pada dampak sampah yang akan datang, dengan memulai pengelolaan sampah dari memilah hingga memanfaatkan sampah organik dan anorganik, untuk dijadikan bahan kompos hingga menjadi bahan yang mempunyai nilai jual. Serta mengurangi penggunaan habis pakai dan plastic seperti popok sekali pakai, kantong plastik, Styrofoam, sedotan, botol plastik, dan kemasan sachet.

“Laut punya pesona kehidupan, namun sampah bukanlah salah satunya” pungkasnya. (bro)