Belut Kecil Dan Cara Tuhan Mengurusnya.

Reporter : Redaksi - klikjatim

Catatan kecil perjalanan ke Bawean, edisi 3 :

Dewi Musdalifah

Penggiat Literasi Ketua MPI PDM Gresik

 

Perjalanan ke pulau Buwun menghadiahi sebuah peristiwa yang menggugah kesadaran.

Saat itu, saya dan rekan Timur Budi Raja dibuat oleng selama 3 jam di dalam kapal Feri, disebab amukan ombak. Turun dari kapal, kami merasa perlu menenangkan diri. Duduk di pinggir jalan pelabuhan menunggu jemputan.

Di samping tempat kami duduk-duduk, beberapa orang memindahkan barang beberapa box berisi ratusan belut kecil. Box-box itu dipindahkan dari troli pelabuhan ke atas mobil pick up. Di saat proses pemindahkan box itulah, seekor belut kecil terjatuh dan menggeliat di atas pasir jalanan.

Menyaksikan peristiwa itu, kami kemudian berbincang tentang nasib seekor belut yang diperkirakan akan mati dan tak sempat tumbuh. Rekan saya berinisiatif memberitahu para pekerja itu dengan harapan ada yang menyelamatkannya.

Saya tak yakin mereka mau, sebab itu bukan hal yang penting. Kehilangan seekor belut kecil tentu tak berarti apa apa.

Pikiran saya benar. Ketika diberitahu terdapat seekor belut yang jatuh, salah seorang dari mereka berusaha mengambilnya. Permukaan kulitnya yang licin membuat belut kecil itu tak tertangkap. Disebab kecewa, belut kecil itu pun akhirnya ditendang ke pinggir jalan.

Kami gelisah menyaksikannya. Rekan saya berniat mengambil dan memasukkannya ke dalam parit yang ada airnya supaya bisa tetap hidup. Tapi saya menyarankannya untuk menunggu, sampai mereka selesai memindahkan box-box itu.

Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh-sungguh membuat kami tertegun. Di saat para pekerja tersebut memindahkan salah satu box, tiba tiba tangan salah satu dari mereka tergelincir dan tumpahlah sebagian isi belut itu ke tanah. Sekitar 15 hingga 20 ekor belut terjatuh dan semburat di jalan. Bersama-sama mereka berusaha memasukkan belut-belut yang jatuh itu kembali ke dalam box.

Yang mengagumkan, belut-belut itu merayap ke arah belut kecil yang sebelumnya, tepat di pinggir jalan. Mau tak mau akhirnya mereka pun mengambil semua belut yang jatuh dan terserak, termasuk seekor belut kecil yang semula tak punya harapan untuk diselamatkan.

Kami terharu menyaksikan cara Tuhan mengurus makhluk-Nya. Seekor belut kecil, yang bagi kita mungkin dianggap tidak memiliki arti apa-apa di tengah-tengah kesemestaan ini, hidupnya diurus Tuhan sedemikian indah dan penuh kasih sayang.

Tuhan menjadikan box belut itu tergelincir dari tangan para pekerja untuk menolong belut kecil agar tetap hidup. Sungguh, jika kita tahu bagaimana cara Tuhan mengurus makhluk-Nya, maka kita akan meleleh karena mencintai-Nya.

Lalu, bagaimana kita merasa tidak yakin Tuhan ada dan mengatur urusan kita, bila kita tahu seekor makhluk kecil saja, Tuhan mengurusnya sedemikian rupa, dengan cara-cara megah di luar batas pemikiran manusia. (*)