Banjir di Desa Kedungbanteng dan Banjarasri Kecamatan Tanggulangin, Dua Sekolah Terendam

Reporter : Satria Nugraha - klikjatim.com

SDN Banjarasri tampak kebanjiran setelah diguyur hujan deras. satria nugraha/klikjatim.com

KLIKJATIM.Com I Sidoarjo –  Hujan deras yang menguyur kawasan Tanggulangin pada Hari Minggu (1/11) malam, mengakibatkan Desa Kedungbanteng dan Banjarasri  terendam banjir. Sedikitnya enam RT di dua desa tersebut kebanjiran.   Banjir juga merendam Kompleks SMPN 2 Tanggulangin dan SDN Banjarasri .

BACA JUGA :  Cairkan BLT di BPR Delta Artha, Polisi Kalang Kabut Tertibkan Kerumanan

Kepala Sekolah SDN Banjarasri M. Ismanu mengatakan pintu masuk dan halaman SMPN 2 terendam bajir sekitar 30 cm. Sedangkan banjir di SDN Banjarasri menggenangi semua ruangan.  Bahkan sudah dua tahun terakhir ini setiap musim hujan, SD tersebut selalu tergenang banjir. 

“Dulu setiap hujan, air yang menggenang cepat surut. Bahkan akhir tahun lalu, sekolah ini terendam hampir tiga bulan lamanya. Anak-anak terpaksa belajar di atas meja” terang Ismanu, Senin, (2/11/20).

Ismanu menambahkan, meskipun kondisi SDN Banjarasri memprihatinkan, namun belum juga ada solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah banjir di setiap musim hujan.  Pihaknya  sudah berulang kali melakukan konfirmasi atau laporan ke Dinas Pendidikan. Namun hanya ditinjau saja. Pernah sekali dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) itu menguruk area lapangan sekolah namun hanya letter T tidak  seluruhnya. “Kami sangat berharap bila nanti murid-murid sudah boleh masuk sekolah, masalah banjir sudah selesai biar anak-abak bisa belajar dengan nyaman,” jelas Siti Kujanah salah satu guru di SDN Banjarasri.

Sementara itu Camat Tanggulangin Sabino Mariano menjelaskan sebenarnya ada tiga desa yang tergenang, namun Desa Banjarpanji tidak separah Desa Kedungbanteng dan Banjarpanji.

“Yang parah itu di RT 5 sama 6 di Kedung Banteng. Untuk RT 7 hanya sebagian. Lalu di Banjar Asri RT 3, 4, dan 5. Untuk yang di Banjar Panji hanya di jalan masuk menuju desanya,” kata Sabino.

Sabino mengatakan, ketinggian air cukup bervariatif. Mulai setinggi 15 cm sampai 20 cm. Sebagai tindak lanjut, Sabino menyebut saat ini pihak kecamatan sudah melakukan koordinasi dengan beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

“Kami sudah lakukan komunikasi dengan dinas teknis seperti BPD, Dinsos, PU dan Dinkes. Hari ini agendanya pemetaan bersama untuk bagi tugas,” ucap Sabino.

Sabino menambahkan, langkah pertama yang harus segera dilakukan adalah mengurangi ketinggian air yang ada di rumah-rumah warga. Hal itu bisa dilakukan dengan menggunakan pompa air yang akan disediakan oleh Dinas PU. (rtn)