Aset Bank Jatim 2019 Naik Jadi Rp 76,7 Triliun

Reporter : Abdul Aziz Qomar - klikjatim.com

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Aset PT Bank PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (Bank Jatim) pada 2019 lalu tercatat meningkat 22,2 persen atau naik menjadi Rp 76,72 triliun. Pencapaian kinerja positif juga terjadi pada perolehan laba bersih.

BACA JUGA :  Larangan Mudik, KAI Stop Perjalanan KA Penumpang

“Tahun Buku 2019 performanya positif, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year on year/yoy). Tercatat aset Bank Jatim mengalami pertumbuhan 22,37 persen, atau mencapai Rp 76,72 triliun. Pertumbuhan laba bersih sebesar 9,22 persen (yoy) atau Rp 1,38 triliun,” kata Pgs Direktur Utama Bank Jatim Ferdian Timur Satyagraha.

Disebutkan, performa keuangan positif ini juga terjadi pada perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Jatim sebesar 18,91 persen yaitu sebesar Rp 60,55 triliun. Pertumbuhan dana pihak ketiga yang signifikan tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat kepada Bank Jatim meningkat.

Selain itu, kata Ferdian, pencapaian DPK tersebut diperkuat dengan Casa rasio Bank Jatim sebesar 76,06 persen. Sedangkan dari sisi pembiayaan, lanjut Ferdian, Bank Jatim mampu mencatatkan pertumbuhan kredit tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Mencapai 13,16 persen (yoy) atau sebesar Rp 38,35 triliun. Hal ini diikuti dengan penurunan rasio Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet secara signifikan yaitu sebesar 2,77 persen.

BACA JUGA :  Curhat Risma 10 Tahun Jadi Wali Kota, Penutupan Dolly dan Bom Surabaya Momen Paling Berat

Sementara itu, kredit di sektor konsumsi menjadi penyumbang tertinggi, yaitu sebesar Rp 23,10 triliun atau tumbuh 7,12 persen (YoY). Sedangkan pertumbuhan paling tinggi didapat dari sektor komersial sebesar 27,11 persen atau tercatat Rp 9,23 triliun, dan didongkrak dari pertumbuhan kredit sindikasi yang signifikan sebesar 118,98 persen.

Adapun komposisi rasio keuangan periode Desember 2019 antara lain Return on Equity (ROE) sebesar 18,00 persen, Net Interest Margin (NIM) sebesar 6,11 persen, dan Return On Asset (ROA) 2,73 persen. “Sedangkan Biaya Operasional dibanding Pendapatan Operasional (BOPO) masih tetap terjaga di angka 71,40 persen,” pungkasnya. (hen)