KLIKJATIM.Com | Bojonegoro – Langkah revolusioner dalam memutus rantai ketergantungan penjualan bahan baku mentah sektor agraria resmi dimulai di Kabupaten Bojonegoro.
Dikenal menahun sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Provinsi Jawa Timur, wilayah ini kerap kali menghadapi ironi akibat sebagian besar hasil panennya keluar daerah dalam bentuk gabah kering, sehingga nilai tambah ekonominya justru dinikmati wilayah lain.
Baca juga: Kemenag Bojonegoro Tunggu Tambahan Dana, Sertifikasi Guru PPPK PAI Belum Bisa Dicairkan
Guna mengubah paradigma tersebut, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro secara resmi meluncurkan produk beras premium lokal bertajuk "Rojo Nogo". Inisiatif komersial ini diambil sebagai strategi taktis membangun hilirisasi sektor pertanian sekaligus menghadirkan produk pangan unggulan baru yang memiliki daya saing kompetitif di pasar nasional.
Prosesi peluncuran yang diselenggarakan khidmat di Hotel GDK Bojonegoro tersebut juga menandai sepak terjang perdana Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pangan Mandiri. Korporasi plat merah ini diposisikan sebagai motor penggerak utama pengembangan bisnis pangan daerah, yang memiliki mandat tidak hanya memasarkan produk akhir, melainkan juga memperkuat serta mengintegrasikan rantai usaha pertanian dari hulu ke hilir.
Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, menegaskan bahwa sudah saatnya daerah sentra produksi beras tidak lagi terjebak sebagai sekadar pemasok gabah curah bagi korporasi luar. Hilirisasi dinilai menjadi harga mati untuk mendongkrak kesejahteraan petani di akar rumput.
"Potensi pertanian Bojonegoro sangat besar. Sayang kalau hanya berhenti di gabah. Sudah saatnya hasil pertanian kita diolah menjadi produk berkualitas yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi," ungkap Setyo Wahono dalam sambutan resminya.
Baca juga: Menaker dan Seskab Luncurkan MagangHub Angkatan II, Kuota Peserta Naik Jadi 150 Ribu
Wahono menggarisbawahi bahwa kehadiran BUMD Pangan Mandiri bukan didesain untuk mencuri ceruk pasar para pedagang lokal ataupun berdiri sebagai kompetitor lembaga Bulog.
"Sebaliknya, entitas baru ini dirancang menjadi mitra strategis yang merangkul para petani mandiri, pemilik penggilingan padi skala kecil, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), KDKMP, hingga jajaran penyuluh lapangan demi memformulasikan ekosistem pangan yang inklusif dan saling menguntungkan," tuturnya.
Dari sisi peta pemasaran, beras Rojo Nogo sengaja diposisikan untuk membidik pangsa pasar kelas atas (premium market) di luar wilayah, seperti Surabaya, Jakarta, hingga Pulau Kalimantan yang memiliki tingkat permintaan beras berkualitas tinggi. Penetrasi eksternal ini dipilih secara sengaja agar tidak mengintervensi atau merusak stabilitas harga dan ekosistem pasar beras lokal yang sudah terbentuk mapan di Bojonegoro.
Baca juga: Polres Jember Klarifikasi Video Viral Anggota Diduga Nyabu, Sudah Demosi 2 Tahun
Selain mengedepankan aspek profitabilitas profesional, BUMD Pangan Mandiri juga diwajibkan mengemban fungsi sosial. Perusahaan daerah ini diproyeksikan menjadi instrumen taktis Pemkab Bojonegoro dalam melakukan intervensi pasar dan menjaga harga gabah di tingkat petani agar tidak merosot tajam saat musim panen raya tiba melalui skema penyerapan hasil tani yang terukur.
Bagi jajaran pembuat kebijakan di Pemkab Bojonegoro, jenama Rojo Nogo adalah simbol transformasi struktural ekonomi daerah, dari corak agraris tradisional menjadi produsen pangan bernilai tambah tinggi. Melalui peluncuran komoditas premium ini, Bojonegoro menargetkan terciptanya rantai nilai pertanian yang lebih kuat, tangguh, memicu penguatan PAD, serta mengukuhkan kedaulatan pangan daerah di level nasional.
Editor : Fatih