KLIKJATIM.Com | Surabaya - Pemprov Jawa Timur (Jatim) berhasil mendorong sebanyak 7.724 desa keluar dari status tertinggal. Walhasil, kini Provinsi Jatim bebas alias 'zero' dari desa berstatus tertinggal.
[irp]
Berdasarkan data Indeks Desa Membangun (IDM) Tahun 2021 Kementerian Desa PDTT, jumlah desa mandiri dan maju di Provinsi Jatim tertinggi di antara provinsi lain se-Indonesia. Dalam pemutakhiran data IDM tahun 2021, tercatat 3.269 desa di Indonesia dinyatakan sebagai desa mandiri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 697 desa atau 21,32 persen berada di Jatim. Bahkan, desa maju di Jatim juga mendominasi secara nasional dengan total 3.283 desa.
"Alhamdulillah, berdasarkan Indeks Desa Membangun Tahun 2021 yang dirilis Kemendes/PDTT saat ini di Jawa Timur sudah tidak ada lagi desa tertinggal apalagi desa sangat tertinggal. Yang harus kita syukuri saat ini ada 697 desa mandiri di Jawa Timur, yang merupakan jumlah terbanyak secara nasional," ujar Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (20/8/2021).
Sedangkan dari catatan BPS Jatim, per 21 Juli 2021 menyebut bahwa tingkat keparahan dan kedalaman kemiskinan di Jatim paling tipis jika dibandingkan provinsi lainnya di Pulau Jawa.
Sementara itu kontribusi terbesar angka penurunan kemiskinan di Jatim berada di wilayah pedesaan dengan total penurunan sebanyak 33.246 orang. "Dalam setiap proses pembangunan yang dilakukan terdapat ikhtiar agar terus menekan angka kemiskinan, serta mendorong kesejahteraan masyarakat terus meningkat," kata Khofifah.
Dia memaparkan, terjadi peningkatan jumlah desa mandiri yang sangat signifikan di Jatim pada tahun ini dibandingkan pada tahun 2020 sebanyak 332 desa. Begitu pula pada status IDM maju yang meningkat tajam dari 2.621 desa pada tahun 2020 menjadi 3.283 desa.
"Tahun lalu masih terdapat 3 desa tertinggal dan satu desa sangat tertinggal. Tahun ini sudah tidak ada lagi. Hal ini setelah ditetapkannya dua desa di Jatim, yakni Renokenongo dan Kedungbendo di Kabupaten Sidoarjo sebagai desa yang tidak memenuhi kriteria pembentukan desa sesuai Undang-undang Nomor 6 tahun tahun 2014 tentang desa," paparnya.
Keberhasilan mengentas Jatim dari desa tertinggal dan sangat tertinggal, lanjut Khofifah, menjadi bukti komitmen Pemprov Jatim mengentaskan desa tertinggal dan mendorong kemandirian desa melalui berbagai program. Di antaranya program Desa Berdaya dan Paman Desa yang memberikan stimulus berupa permodalan di tingkat desa.
Pemprov Jatim pun telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 20,1 miliar untuk Paman Desa dengan sasaran 301 BUMDesa. Kemudian anggaran untuk Desa Berdaya senilai Rp 15,1 miliar untuk 151 Desa Mandiri.
"Terima kasih kepada para kepala daerah, camat, kepala desa dan seluruh pendamping desa, serta perguruan tinggi yang telah melakukan pendampingan sehingga tercapainya peningkatan terhadap status IDM di Jatim," tutur Khofifah yang juga Ketua PP Muslimat NU tersebut.
Perlu diketahui, 5 desa di Jatim yang menjadi desa mandiri sekaligus masuk dalam 10 ranking tertinggi nasional antara lain Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu dengan skor 0,9981 - Desa Gentengkulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi dengan skor 0,9924 - Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu dengan skor 0,9886 - Desa Gentengwetan, Kecamatn Genteng, Banyuwangi 0,9867 - Desa Punten, Kecamatan Bumiaju, Kota Batu dengan skor 0,9775. (nul)
Editor : Redaksi