Produktivitas Panen Lebih Tinggi, Padi Hibrida Mulai Dikembangkan Petrokimia Gresik

Dirut PG, Rahmad Pribadi (kiri) saat meninjau ke kawasan Kebun Percobaan (Buncob) PT Petrokimia Gresik di Jalan Noto Prayitno. (koinul M/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Gresik – Kementerian Pertanian (Kementan) telah melakukan pengembangan benih padi yang melibatkan dunia usaha. Bahkan, Kementan memberikan lisensi kepada perusahaan yang berkomitmen mengembangkan benih padi hibrida varietas HIPA.

Di antaranya PT Petrokimia Gresik (HIPA 18), PT Bayer Indonesia (HIPA 20) dan PT Saprotan Benih Utama (HIPA12 dan 14). Hal ini dilakukan menjadi salah satu indikator adopsi teknologi yang dapat dipercaya.

BACA JUGA :  NPK Petro Nitrat Tingkatkan Panen Jeruk Siam Madu di Kabupaten Karo

Kepala Balitbangtan Kementan, Fadjri Djufri mengungkapkan, benih padi hibrida mempunyai keunggulan potensi produktivitas. Misalnya vatietas HIPA 18.

“Varietas ini mempunyai potensi panen 12,8 ton gabah kering panen (GKP) per hektare (ha). Potensinya jauh di atas rerata nasional yang hanya lima sampai enam ton per hektar,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, benih ini tahan dengan penyakit hawar daun. Tahan juga terhadap bakteri, blast serta tahan serangan hama wereng batang coklat biotipe 1.

BACA JUGA :  Tingkatkan Kualitas SDM, Petrokimia Gresik Terima Mahasiswa Magang Bersertifikat

“Sinergitas Kementan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, para mitra penangkar, perusahaan nasional maupun multinasional untuk melakukan komersialisasi varietas padi hibrida yang dilepas secara nasional,” jelasnya.

Di lain pihak, PT Petrokimia Gresik (PG) menunjukan keseriusannya melalui bekerjasama dengan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) untuk mengembangkan benih pada hibrida. PG juga menilai potensi produktivitas benih padi hibrida maksimal mencapai 20 persen dibandingkan benih inbrida.

Manager Humas PG, Ihwan menerangkan, ketersediaan benih hibrida di toko pertanian memang masih terbatas. Pasalnya, jumlah produsen atau penangkar benih juga terbatas.

BACA JUGA :  PG Luncurkan Produk Baru Khusus Tanaman Perkebunan

“Untuk faktor lain karena masih ada pemahaman yang tidak tepat terhadap padi hibrida. Petani mengganggap padi hibrida adalah padi yang mendapat perlakuan istimewa,” kata Ihwan.

Padahal tidak demikian. Menurutnya, sebagaimana padi inbrida. Yaitu sesuai dengan rekomendasi dari hasil uji adaptasi, yang dilakukan pada saat proses pelepasan varietas.

Sementara itu, Kepala BB Padi Balitbangtan, Priatna Sasmita menambahkan, Kementan juga melepas sebanyak 19 varietas hibrida selain yang disebutkan di awal. Antara lain varietas MARO, Rokan, HIPA 3, HIPA 4, HIPA 5 ceva, HIPA 6 JETE, HIPA 7, HIPA 8, HIPA 9, HIPA 10. Kemudian HIPA 12 SBU, HIPA 13, HIPA Jatim 1, HIPA Jatim 2, HIPA Jatim 3, dan HIPA 19.

“Padi hibrida merupakan salah satu teknologi pemuliaan tanaman, yang dapat digunakan sebagai alternatif peningkatan produktivitas padi nasional, melalui pemanfaatan fenomena heterosis yang terdapat pada turunan pertama (F1) suatu persilangan,” paparnya. (nul/rtn)